Sabtu, 31 Juli 2010

Pelangi Selepas Badai dan Gemuruh


“Hidup tidak selamanya indah, langit tak selalu cerah, kelam malam tak berbintang, itulah lukisan alam”.
Nasyid nan syahdu tersebut terasa cukup mencerminkan peristiwa-peristiwa dalam hidup kita. Ada siang dan ada malam, ada hujan dan ada terik mentari, ada suka kan ada pula duka. Tidak selamanya hari-hari kita bahagia, ada kalanya duka melanda. Entah itu sebagai ujian, teguran maupun hukuman. Namun apa pun itu, selayaknya seorang Muslim senantiasa berbaik sangka pada Allah.
Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang dikehendaki Allah kebaikan pada dirinya, maka Dia Menimpakan cobaan kepadanya”. (HR. Muslim)
Juga, “Surga itu dikelilingi dengan hal-hal yang tidak disukai (oleh hawa nafsu) sedangkan neraka dikelilingi oleh hal-hal yang disukai oleh hawa nafsu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Itu semua sudah menjadi sunnatullah, itu semua seperti telah diguratkan sebagai bentang lukisan di kanvas alam semesta ini. Karena adanya permasalahan akan membuat kita belajar untuk menjadi lebih baik. Lebih baik di sini dapat berarti mampu lebih bijak dan dewasa, ataupun investasi pahala, atau bisa juga sebagai penggugur dosa.
“Tiadalah seorang muslim tertusuk duri atau lebih dari sekedar itu, melainkan ditetapkan baginya karena hal itu satu derajat dan menghapus pula satu kesalahan karena hal itu.” (HR Muslim)
Guru tidak mungkin menaikkan jenjang pendidikan muridnya tanpa mengujinya terlebih dahulu, seseorang tidak mungkin meraih gelar sarjana dengan segala harga dirinya tanpa melalui sidang skripsi dan berbagai ujian teoritis. Dan tidak mungkin sama besarnya ujian seorang mahasiswa dengan pelajar kelas 5 SD.
Allah SWT berfirman, “Allah tidak akan menurunkan sesuatu musibah kepada seseorang, kecuali sekuat kemampuannya”
Rasulullah SAW juga pernah bersabda,”Sesungguhnya besarnya pahala tergantung seberapa beratnya ujian. Dan sesungguhnya Allah apabila mencintai suatu kaum, maka Dia Menguji mereka. Barangsiapa yang ridha (menerima cobaan dan ujian itu) maka dia akan mendapatkan keridhaan, dan barangsiapa yang murka (tidak ridha terhadap cobaan itu), maka ia akan medapat kemurkaan.” (HR. At-Tirmidzi)
Dari uraian di atas, kita sadari bersama, betapa cintanya Allah pada kita, sudah dicipta dengan sempurna, disempurnakan pula hidup kita dengan berbagai hikmah dan kebaikan dari setiap peristiwa dalam kehidupan kita, diampunkan dosa kita dengan ujian yang datang melanda, kesabaran kita menghadapi ujian masih pula diberi pahala, serta dinaikkan derajat kita di sisi-Nya manakala Allah ridha atas hasil ujian kita. Baik ikhtiar, shabar maupun tawakkal semuanya punya poin plus.
Seperti kekaguman yang pernah disabdakan oleh Rasulullah, “Sungguh mengagumkan urusan seorang  Mukmin, sungguh seluruh urusannya adalah bernilai kebaikan, dan tiada seorangpun yang mendapatkan hal itu kecuali hanya seorang Mukmin, jika mendapat nikmat dia bersyukur dan itu adalah baik baginya dan jika ia tertimpa musibah dia bersabar, dan itu adalah baik baginya.” (HR. Muslim)
Luka yang didapat oleh seorang pejuang pemberani dan tangguh, Abu Salamah, dalam Perang Uhud ternyata telah membawanya pada Tuhannya yang selalu dirindukannya. Abu Salamah dan istrinya, Ummu Salamah (Hindun dari Bani Mughirah) adalah hamba-hamba Allah yang sangat thaat pada Allah dan Rasul-Nya. Ketika Rasulullah mengizinkan kaum Muslimin hijrah ke Madinah, setelah kota itu dibuka oleh Mush’ab bin Umair, Abu Salamah adalah orang pertama yang hijrah ke Madinah. Dengan segenap keridhaan pada Tuhannya dan kethaatan, Umat Muslim Mekkah meninggalkan tanah kelahirannya, sedangkan perjalanan hijrah bukanlahtanpa bertaruh keselamatan jiwa.
Kepergian Abu Salamah  untuk selamanya membuat Ummu Salamah sangat berduka. “Sungguh aku akan menangisinya dengan tangisan yang benar-benar menjadi pembicaraan semua orang,” ungkapnya saat kepergian belahan jiwanya. Mengetahui hal itu, Rasulullah SAW bersabda, “Apakah kamu akan memasukkan kembali syaithan ke rumah yang dari dalamnya Allah telah keluarkan syaithan itu?”
Ummu Salamah pun membatalkan rencananya untuk meratapi kepergian kekasih hatinya itu. Di tengah sedu sedannya, Ummu Salamah teringat sebuah doa yang pernah diajarkan oleh suaminya. Tidak ringan rasanya bagi siapa saja mengucap doa tersebut. Namun demikian dengan segenap kepatuhan dan rasa cintanya pada Allah dan Rasul-Nya, Ummu Salamah pun memanjatkan doa tersebut, “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Allahumma ajjirnii fii mushibati wakhluf lii khairan minha (Sesungguhnya segala sesuatu adalah milik Allah dan hanya kepada-Nya-lah akan kembali. Ya Allah berikanlah kepadaku pahala atas musibah ini dan berikanlah kepadaku ganti yang lebih baik darinya”. (HR. Muslim)
Siapa gerangan lelaki yang lebih baik dari Abu Salamah pada masa itu? Lelaki yang pertama kali melaksanakan perintah Allah dan Rasul-Nya untuk hijrah. Setelah beberapa shahabat seperti Abu Bakar dan Umar mencoba untuk melamar wanita mulia didikan Abu Salamah itu, datanglah Rasulullah SAW menjadi jawaban atas doanya.
Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah rahimahullah mengatakan, “Hati dan Ruh bisa mengambil pelajaran yang bermanfaat dari penderitaan dan penyakit, kebersihan hati dan ruh itutergantung sejauh mana penderitaan jasmani dan kesulitannya. Kalau bukan karena cobaan dan musibah di dunia ini, niscaya manusia terkena penyakit hati seperti ujub, sombong dan keras hati. Padahal sifat-sifat itulah yang menyebabkan kehancuran bagi seseorang di dunia dan akhirat.”
Saudaraku, Allah mencintai kita dengan sepenuh Cinta-Nya. Ketebahan kita mendapat pahala, kesadaran kita akan esensi sebuah ujian yang mengantarkan kita pada kesyukuran juga berpahala, tangis kita berpahala, doa kita pun berpahala. Karenanya sekecil apapun upaya kita untuk mendekati-Nya, jangan ragu untuk melaksanakannya. Karena jika kita selangkah mendekat pada-Nya, Ia akan seribu langkah Berlari pada kita. Maka tunggu apa lagi? Lihatlah ayat nan cantik berikut ini yang menggambarkan betapa dalam Cinta-Nya pada kita.
Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa, apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Q.S. 2 : 186)
Wallahu a’lamu bish showab.

About This Web

bismillah... semoga halaman ini dapat bermanfaat buat sahabat sekalian...

Minggu, 11 Juli 2010

..............Awas Futur.........

●●AWAS FUTUR●●
Saat futur..Hati sering takabur..
Diri makin jarang bersyukur..
Seakan diri lupa akan adzab kubur..
Saat futur..
Ingat Allah yang tak pernah tidur..
Ingat malaikat yang mencatat amal kita dan mereka selalu jujur..
Saat futur..Sesungguhnya ujian keimanan yang bertutur..
Ujian ketangguhan untuk bangkit,
...tidak berlama-lama jatuh tersungkur.
.Saat futur..
Shalat wajib dikerjakan dengan waktu yang sengaja diundur..
Tilawah juga jadi tak teratur..

Saat futur.....
Waktu qiyamul lail habis untuk mendengkur..
Hijab juga tak lagi bisa diukur..

Saat futur..
Kualitas ibadah kendur..
Alunan murotal tak lagi membuat hati terhibur..

Saat futur..
Waktu syuro bukannya fokus bahas agenda, malah sukanya ngelantur..
Waktu online Facebook, hobinya buat status yang ngawur..

Saat futur..
Hati girang karena liqo sering libur..
Setoran hapalan Qur'an jadi seperti layangan yang mudah ditarik ulur.
====================================
Futur adalah Sebuah istilah dimana kondisi ruhiyyah seseorang sedang dalam kondisi menurun. Atau bisa dikatakan, futur adalah penurunan semangat beribadah.Ketika seseorang yang biasa bersemangat shalat dhuha 12 rakaat dalam satu hari, kemudian menurun atau tiba-tiba kehilangan semangat, maka itulah futur. Atau ketika seorang yang senantiasa melakukan amar ma’ruf nahi munkar, tapi suatu waktu kemudian semangat amalnya menurun dan bahkan mungkin ketika kondisi seperti itu terus dibiarkan, akhirnya ia sendiri melakukan penyimpangan-penyimpangan amal.

Futur itu memiliki tingkatan-tingkatan. Ada futur yang masih tergolong rendah dan ada futur yang sampai pada taraf kronis. Futur yang terbilang rendah, biasanya tergambar dalam penurunan kualitas dan kuantitas ibadahnya saja. Artinya ia masih berada di rel yang benar, ia masih mengikuti gerbong Al-Qur'an dan as-Sunah. Meskipun, kadang ia tertatih-tatih di rel itu, dan bahkan teringgal di belakang.

Futur yang seperti ini, pada permulaannya memang tidak terlalu berbahaya, karena hal itu merupakan tabiat manusia, bahkan itulah mungkin yang dimaksud dengan al-imanu yazidu wa yanqusu, Iman itu kadang bertambah dan kadang berkurang. Fluktuatif keimanan merupakan hal yang wajar bagi setiap orang, karena tidak ada di dunia ini manusia yang selamanya benar, seperti halnya tidak ada yang selamanya salah.

namun, ketika kondisi seperti itu terus dibiarkan dalam rentang waktu yang cukup lama, maka tentu saja lambat laun ia akan merosot dan terus merosot. Kualitas keimanannya semakin lama akan semakin rendah dan lemah. Dan bahkan mungkin saja, ia akhirnya terperosok pada futur yang kronois. Bukan hanya penurunan kuantitas dan kualitas ibadahnya saja yang nampak pada dirinya, akan tetapi, lebih besar dari itu, ia tidak lagi berada pada rel ketaatan. yang digambarkan dengan beralihnya taat menjadi maksiat, pahala dengan dosa. Na'udzubillah min dzalik.